Manajemen Penyuluhan Agama dan Edukasi Agama Kristen dalam Pengembangan Karakter Remaja di UPT Pelayanan Sosial Siborongborong
Abstract
Masa remaja merupakan fase "pancaroba" atau peralihan yang krusial dalam pencarian jati diri, di mana individu sering menghadapi tantangan emosional, fisik, psikologis, kognitif, dan sosial. Tantangan ini menjadi lebih kompleks bagi remaja dengan latar belakang keluarga yang kurang mendukung (broken home, yatim piatu, atau masalah ekonomi), seperti yang dialami oleh remaja di UPT Pelayanan Sosial Anak dan Lanjut Usia Siborongborong. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan membuktikan bagaimana manajemen penyuluhan serta edukasi agama Kristen dapat membentuk karakter positif yang kuat dan terandal pada remaja di lembaga tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma interpretif subjektivisme untuk mengeksplorasi pengalaman individu secara holistik. Data dikumpulkan melalui teknik triangulasi yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Landasan teoretis utama yang digunakan adalah teori pengembangan karakter Thomas Lickona, yang mencakup tiga dimensi: moral knowing (pemahaman moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (tindakan moral). Hasil identifikasi masalah menunjukkan adanya krisis karakter pada remaja di lokasi penelitian, seperti rendahnya rasa percaya diri, kurangnya kedisiplinan, serta minimnya kejujuran dan tanggung jawab. Melalui peran strategis penyuluh agama Kristen sebagai informan kunci, pendamping, dan edukator, penelitian ini memfokuskan pada integrasi nilai-nilai Kristiani dalam bimbingan moral dan spiritual. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan kajian karakter remaja serta manfaat praktis bagi pengelola UPT dan penyuluh agama dalam mengoptimalkan pola pembinaan remaja yang rentan secara sosial.
